Filsafat Aktif

gadis arivia Oleh: Gadis Arivia

Kini anda telah diterima menjadi murid baru atau memasuki semester baru di Departemen Filsafat, FIB, UI.  Tapi anda masih bingung dan ragu serta terbesit pertanyaan apakah sesungguhnya yang dipelajari di Departemen Filsafat?

Banyak yang menyangka mempelajari ilmu adalah seperti menjadi penonton.  Tontonan tentang berbagai pemikiran dan filsuf atau menonton pengajar-pengajar yang mengajar pemikiran para filsuf.  Padahal belajar filsafat bukan hanya sekedar menuliskan laporan tentang apa yang telah “ditonton”, melainkan selalu terlibat dalam pemikiran filsuf dan kritis atas pemikiran-pemikiran tersebut.  Belajar filsafat menuntut anda untuk berfilsafat.  Inilah intinya menurut Nigel Warburton, seorang ahli filsafat yang menulis buku Philosophy, The Essential Study Guide (2004).  Tulisan Warburton menjadi dasar dari tulisan saya ini sebab bukunya memberikan pemahaman yang mendalam dan luas tentang apa artinya belajar filsafat.

Saya telah mempelajari ilmu filsafat secara formal selama 28 tahun sejak berumur 22 tahun dan mulai mengajar mata kuliah filsafat di UI sejak tahun 1992.  Hingga detik ini, ilmu filsafat terus memberikan saya pencerahan dan perspektif baru tentang pemikiran-pemikiran para filsuf.  Awalnya saya hanya membaca karya-karya filsafat dan tidak terlibat di dalamnya.  Akhirnya saya sadar bahwa membaca karya-karya filsafat artinya terlibat di dalamnya.  Kita bukan hanya membaca karya-karya filsafat tapi kita membacanya sebagai seorang filsuf (secara kritis), dan kita mendengarkannya sebagai seorang filsuf (memikirkan apa implikasi dari yang diutarakan).  Jadi, ketika membahas filsafat kita terlibat di dalam perdebatannya dan bukan hanya menyimak perdebatannya.  Inilah yang membuat filsafat menjadi menarik dan bergairah serta menantang.  Warburton menandaskan belajar filsafat bukan belajar apa yang telah dipikirkan orang lain, melainkan belajar berpikir sendiri sebagai seorang filsuf.

Warburton mengungkapkan terdapat empat prinsip dalam berfilsafat, yaitu:

– Aktif Membaca
– Aktif Mendengarkan
– Aktif Berdiskusi
– Aktif Menulis

Keempat prinsip tersebut menjadi kebiasaan (habit) dalam berfilsafat.  Belajar filsafat artinya siap membaca begitu banyak buku dan artikel yang ditugaskan oleh pengajar.  Kebanyakan buku-buku tersebut sulit unutk dicerna dan dibutuhkan waktu untuk dibaca berulang kali.  Apalagi di Indonesia, buku-buku filsafat dan terjemahannya masih terlalu sedikit (kadang tidak akurat) sehingga perlu menguasai bahasa asing untuk dapat memahami buah pikiran para filsuf.  Kesalahan umum dalam membaca karya filsafat adalah mencernanya sebagai fakta, dan menerimanya apa adanya.  Cara membaca seperti ini adalah cara membaca pasif.  Filsafat membutuhkan cara membaca aktif dengan mencatat poin-poin penting, mengutip pemikiran penting, dan memberikan kritik atau kesan terhadap apa yang telah dibaca.  Pertanyaan yang perlu dilontarkan saat membaca karya-karya filsafat adalah apakah gagasan filsuf tersebut benar?  Jadi bukan hanya menghafal isi buku.

Kebiasaan aktif mendengarkan di kelas akan menemui jalan buntu bila pengajar filsafat hanya berbicara panjang lebar tanpa kejelasan dan tidak dimengerti esensi konsep yang dibicarakan.  Tugas utama pengajar filsafat adalah menstimulasi cara berpikir mahasiswa, dan memotivasi murid untuk berani mengutarakan pendapatnya.  Seorang pengajar yang baik akan memberikan sumber-sumber bacaan yang tepat serta artikel-artikel yang menarik tentang topik yang dibahas.  Aktif mendengarkan kuliah di kelas berarti aktif terlibat dalam diskusi di kelas.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu selalu memberikan perhatian pada argumen-argumen filosofis, jangan berharap dapat belajar filsafat dengan tertidur di dalam kelas dan selalu datang ke kelas dengan persiapan (bahan-bahan yang perlu dibaca).  Jean Paul Sartre dalam karyanya Being and Nothingness mengatakan: The attentive pupil who wishes to be attentive, his eyes riveted on the teacher, his ears open wide, so exhausts himself in playing the attentive role that he ends up by no longer hearing anything.

Warburton memberikan pengandaian bahwa aktif mendengarkan artinya seperti aktif mendengarkan menu makanan.  Bila anda pergi ke restoran dan tidak menyimak menu makanan yang diutarakan penyaji, maka anda tidak memahami apa yang akan dihidangkan.   Pengajar yang baik akan memberikan “menu” pada awal kuliah sehingga murid akan paham apa yang akan “dilahapnya” selama kuliah berlangsung.

Kebiasaan aktif berdiskusi merupakan bagian penting dari proses belajar filsafat.  Melalui diskusi kita belajar tentang apa yang kita ketahui, memformulasi dan mengeksplorasi ide-ide baru dan belajar untuk mengembangkan keahlian berpikir (Warburton, 2004:39).  Bagi orang luar seringkali perdebatan filsafat dianggap sebagai yang tiada habisnya dan selalu satu konsep dapat dikritik oleh konsep lain.  Filsafat memang tidak pernah memberikan jawaban yang pasti dan semua konsep filosofis dapat dikritik, ditolak atau diperbaharui.  Belajar filsafat berarti dapat berargumen dengan baik tapi bukan berarti hanya fokus pada argumen dan counter-argumen melainkan pada pertukaran pendapat yang kreatif, mencari pemahaman baru dan dalam situasi yang menantang.

Bertanyalah sebanyak mungkin sebab filsafat bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti “mengapa kita ada?” “apakah realitas?” “bagaimana kita harus hidup?”  Pertanyaan-pertanyaan sulit ini membutuhkan pemikiran yang kontemplatif. Bila anda tidak siap untuk menerima dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, maka filsafat bukanlah studi yang tepat untuk anda.  Agar anda dapat secara penuh terlibat dalam pembahasan filosofis, maka anda harus siap untuk menerima beragam ide dan pendapat.

Prinsip dan kebiasaan terakhir yang perlu diperhatikan adalah aktif menulis.  Menulis adalah komponen terbesar dalam mempelajari ilmu filsafat.  Itu sebabnya dalam meraih ijasah S1 pun skripsi diwajibkan atau paling tidak dianjurkan agar lulusan filsafat memiliki fondasi menulis yang matang.  Setiap penulisan skripsi, tesis atau disertasi dan esei-esei yang diwajibkan di kelas memiliki bobot yang tinggi.  Penulisan tersebut bukan bersifat deskriptif atau paparan fakta-fakta melainkan penulisan yang memperlihatkan pengetahuan dan pemahaman isu-isu penting para pemikir.  Penulisan disusun dengan argumen-argumen yang kritis dan memiliki gairah untuk menulis sehingga tulisan yang dihasilkan hidup dan mencerminkan pemikiran sendiri, orisinal dan otentik.

Banyak tulisan yang dihasilkan di perguruan tinggi hanya berbentuk “transkrip” dan sama sekali tidak melibatkan pemikiran yang mendetail.  Tujuan dari tulisan semacam ini adalah untuk sekedar memenuhi tugas akhir atau mendapatkan ijasah semata.  Tulisan-tulisan yang mekanistis seperti ini bisa saja membuat anda cepat lulus apalagi bila para pengajarnya juga tidak peduli pada hasil karya mahasiswa.  Namun, hasil karya semacam ini seringkali menghuni keranjang sampah dan tidak ditengok lagi baik oleh yang membaca maupun yang menulis.  Tulisan-tulisan semacam ini tidak akan mempengaruhi kehidupan siapapun apalagi mengubah apapun, sebab tinta yang ditumpahkan tanpa dibubuhi rasa cinta dan kepedulian terhadap ilmu.  Hambar.

Belajar filsafat merupakan sebuah proses dan perjalanan hidup.  Perjalanan yang mengesankan tidak pernah berpikir pada target melainkan pada kenikmatan dan makna dari seluruh proses yang dilalui.  Pada akhirnya dalam hidup, target hanya bersifat kuantitatif dan tidak pernah kualitatif.  Apakah makna perjalanan studi anda?  Apakah semata-mata mengejar target ataukah sebuah perjalanan yang mengesankan?  Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu sebelum anda memulai perjalanan hidup anda di Departemen filsafat.


1 Reply to "Filsafat Aktif"

  • susan
    July 18, 2016 (11:59 am)
    Reply

    terima kasih informasinya


Berikan komentar anda

html is OK