40 Tahun Filsafat UI

rockyOleh: Rocky Gerung Usia filsafat telah 25 abad. Dihitung saat logos menyisihkan mitos di Yunani.  Di Universitas Indonesia, usia filsafat masih sangat belia. Ia lahir sebagai Jurusan Filsafat di Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), 31 Maret 1975. Tentu tak harus disimpulkan bahwa mitos telah tersingkir dari komunitas akademik di Universitas Indonesia sejak 40 tahun lalu. Juga tak berarti bahwa cara berpikir kritis telah melembaga di Universitas Indonesia. Sebaliknya, setiap hari kita masih menyaksikan pameran feodalisme di kehidupan kampus. Profesor yang tak ingin dikritik, dosen yang bias gender, birokrasi yang mengabdi pada figur, mahasiswa yang membungkuk-bungkuk pada pembimbing akademiknya, dst. Semua itu adalah mitos tentang otoritas, yaitu bahwa pengetahuan berkaitan dengan kedudukan. Mitos masih menguasai ruang-ruang kelas di Universitas.

Tetapi sangat mencengangkan bahwa peminat studi fisafat di Universitas Indonesia terus meningkat. Bila dahulu kuliah filsafat dipandang sebagai tak menjamin kesejahteraan hidup, kini pikiran itu tak lagi dominan.  Bukan karena banyak contoh tentang keadaan yang sebaliknya, melainkan karena cara melihat “hidup” yang telah berubah. Dalam percakapan dengan mahasiswa, saya mengetahui bahwa ada keinginan  sangat kuat pada mereka untuk mandiri dalam pikiran, tumbuh kritis melihat realitas, mencari akar soal dengan akal.

Pada generasi ini, generasi yang tak hidup dalam kontrol pikiran era Orde Baru, kemerdekaan pikiran menjadi semacam prasyarat untuk ‘hidup cukup’. Yaitu bahwa hidup memerlukan infrastruktur pikiran.  Tentu filsafat bukan penjamin prasyarat vital itu, tetapi pada filsafat ada kepastian bahwa finalitas tak boleh menetap dalam kehidupan bersama. Pikiran bertumbuh dalam percakapan. Dengan cara itu kehidupan berlanjut. Kondisi inilah saya kira yang menjadi ‘alasan tak terucapkan’ tentang keinginan mempelajari filsafat di era. sekarang.

Pada kondisi ini, jurusan filsafat di Universitas Indonesia berikhtiar memelihara momentum kebebasan, bukan demi mengunggulkan arogansi individualisme, melainkan agar tersedia kecukupan kritisisme dalam kehidupan politik dan kebudayaan. Terutama pada saat-saat sejarah diumpankan ke dalam ruang gelap ideologi, pada fanatisme kebudayaan, pada fundamentalisme materi, pada ketertutupan politk, dst.

Sejarah hari ini adalah sejarah penentuan: mampukah sebuah generasi mengucapkan dalil demokrasi, dalil kebebasan manusia, dalil otonomi pikiran, di tengah kondisi lokal dan global yang cenderung komunalistik, doktriner dan moralistik.

Pada tingkat produksi pikiran, sebagaimana terbaca dalam karya-karya akademik mahasiswa, cukup harapan untuk melihat sebuah generasi yang kritis, generasi yang meluap-luap dalam gairah berpikir, kendati terhimpit oleh infrastruktur akademik dan birokratik yang masih penuh hirarki, patriarkis dan ideologis.

Tema-tema filsafat kritis, kajian feminisme, environmentalisme, studi darwininian dan teologi pluralistik, menonjol sebagai tesis skripsi dan disertasi dalam era reformasi di sini. Akses yang makin mudah pada pikiran dan riset global tentang teknologi dan neurosains, juga kuat mendorong para mahasiswa untuk mendiskusikannya di luar kelas, dalam forum diskusi.

Pada kondisi optimistik itu, tetap ada sedikit kekuatiran, bahwa citra filsafat sebagai lahan pikiran bebas, dengan tuntunan akal dan metode, masih dianggap sebagai ‘pabrik anarki’ yang hanya mengganggu ortodoksi kurikulum universitas, membahayakan religi dan tradisi, dan tak menghasilkan ‘karya kongkrit’.

Paradoks itulah yang kini membayangi studi filsafat di Universitas Indonesia. Artinya, bagaimana mungkin paradigma ‘liberal arts’ dijalankan di Universitas bila studi filsafat tak dikembangkan maksimal? Bagaimana mungkin suatu fakultas kebudayaan mengkaji manusia dan pikirannya, tanpa menempatkan metode filsafat sebagai pokok peralatan kajian akademik?

Abstraksi dan konseptualisasi adalah modus berpikir filsafat. Bila itu tak dianggap sebagai ‘kongkrit’, maka ilmu pengetahuan tak akan pernah menghasilkan konstruk. Cara pandang yang melihat kebudayaan semata-mata sebagai ‘hasil karya kasat mata’, adalah suatu reduksi substansialistik. Apa yang dihasilkan filsafat? Tentu bukan roti sarapan pagi. Tetapi tanpa refleksi kritis di pagi hari, kita hanya bersungut-sungut sepanjang hari. Filsafat adalah intervensi terhadap kemapanan. Energi kritis itulah yang esensial dalam filsafat. Sejak awal dan sampai nanti.

Selamat Ulang Tahun Departemen Filsafat UI.


No Replies to "40 Tahun Filsafat UI"


    Berikan komentar anda

    html is OK